DENPASAR, MEDIAPOLRINEWS – Gelar “Destinasi Paling Romantis di Dunia 2026” dari World Travel Awards kembali disandang Bali. Namun, di balik gemerlap pencapaian tersebut, para pengamat dan tokoh masyarakat mengingatkan serangkaian tantangan berat yang mengancam keberlanjutan pulau dewata itu. Isu ketimpangan pemerataan ekonomi dan kerusakan lingkungan mendesak untuk menjadi sorotan utama.
Ironi di Balik Gemerlap Pariwisata, Bali telah lama menjadi magnet wisata dunia dengan daya tarik alam, budaya, dan hospitality-nya yang tak terbantahkan. Namun, pakar dan tokoh masyarakat Bali, Putu Suasta, menegaskan adanya ironi mendalam dalam pembangunan pariwisata pulau ini.
“Rejeki dari sektor pariwisata terkonsentrasi dan dinikmati masyarakat di Bali Selatan. Masyarakat Bali Utara yang relatif miskin masih menikmati remah kue pembangunan dengan menjadi buruh kasar di selatan Bali. Ironi ini sudah saatnya dihentikan,” tegas Suasta, seperti dikutip dalam sebuah analisis terkini.
Peringatan Suasta bukan tanpa dasar. Pembangunan yang masif dan kerap tidak tertib dinilai telah mengorbankan aspek lingkungan. Alih fungsi lahan persawahan, hutan bakau, dan ancaman terhadap hutan lindung terus terjadi. Infrastruktur yang tertinggal, penumpukan hotel di wilayah selatan, serta masalah sampah dan kemacetan adalah problem klasik yang belum tuntas.
Dampak ekstremnya terlihat pada bencana banjir bandang yang melanda kawasan selatan Bali pada 10-12 September 2025 lalu. Bencana yang disebut-sebut “tidak terpikirkan sebelumnya” itu menelan korban jiwa 18 orang meninggal dan 4 orang hilang, serta kerugian material yang besar.
“Pengabaian sumbangan pohon, hutan bakau, dan hutan lindung sangat berbahaya di kemudian hari. Banjir di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, serta banjir di selatan Bali adalah pelajaran yang tak perlu diulang,” tegas Putu Suasta menambahkan.
Analis menyerukan pentingnya perubahan paradigma pembangunan pariwisata Bali ke depan. Putu Suasta menekankan, pembangunan mutlak harus berorientasi pada kesejahteraan masyarakat secara adil dan merata, serta berwawasan lingkungan.
Hal ini sejalan dengan kritik bahwa pembangunan infrastruktur dan ekonomi harus merata hingga ke wilayah Bali Utara, sembari menjaga disiplin dalam pelestarian alam. Tujuannya agar Bali tidak hanya menjadi destinasi romantis bagi wisatawan, tetapi juga pulau yang berkeadilan dan berkelanjutan bagi seluruh warganya.
Pencapaian Bali sebagai ikon pariwisata dunia tidak boleh membutakan para pemangku kepentingan terhadap dua ancaman serius: kesenjangan ekonomi wilayah dan degradasi lingkungan. Tanpa penanganan yang tegas, faktual, dan terencana terhadap kedua isu ini, keberlanjutan “Pulau Romantis” Asia di masa depan bisa berada dalam pertanyaan besar.
(Red)
Sumber: Analisis para pakar dan tokoh masyarakat Bali.
