BANGLI, MEDIAPOLRINEWS – Persoalan sampah di Kabupaten Bangli menjadi perhatian serius seiring dengan meningkatnya produksi sampah akibat aktivitas masyarakat, pertumbuhan penduduk, dan perkembangan industri. Hal ini disampaikan oleh Ketua Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Bangli, Satria Yudha, kepada awak media pada Jumat (17/4/2026).
Satria Yudha menyampaikan bahwa kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) bersifat terbatas, sehingga penanganan sampah perlu dikelola dengan baik dan profesional untuk mencegah masalah menjadi lebih serius ke depan. “Kita berharap keseriusan penanganan sampah oleh Pemerintah Kabupaten Bangli melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus ditingkatkan, dengan terus berinovasi dan berkolaborasi dengan bank sampah atau Tempat Pengelolaan Sampah 3 R (TPS3 R),” ujar politisi dari PDI Perjuangan dapil Kecamatan Susut tersebut.
Ia juga mendesak DLH untuk memaksimalkan peran TPS3 R yang hingga saat ini belum beroperasi secara optimal. Pada kesempatan yang sama, Satria Yudha menyampaikan apresiasi atas laporan penurunan volume sampah yang dikirim ke TPA Landih sebesar 3 ton per hari, dengan catatan data tersebut valid. “Jika benar terjadi penurunan signifikan, saya beri apresiasi. Hal ini menunjukkan pengolahan sampah berbasis sumber sudah semakin nyata,” katanya.
Pengolahan sampah berbasis sumber, tambahnya, tidak hanya mengurangi tumpukan sampah di TPA tetapi juga menghasilkan produk bernilai tambah seperti pupuk dari sampah organik. Namun, ia juga memastikan kebenaran data penurunan pengiriman sampah tersebut.
Sebelumnya, Kepala DLH Kabupaten Bangli, I Putu Ganda Wijaya, menyampaikan bahwa volume sampah yang dikirim ke TPA mengalami penurunan dari sebelumnya 74 ton per hari menjadi 71 ton per hari. “Penurunan sebesar 3 ton per hari sesuai dengan data yang kami catat dari sampah yang diangkut petugas setiap hari,” jelasnya.
Ganda menjelaskan bahwa meskipun sampah yang masuk ke TPA masih didominasi oleh sampah organik, komposisi jenis sampah yang dikelola di tingkat sumber telah mengalami perubahan. “Sampah organik yang masuk ke TPA berkurang signifikan, sementara sampah residu mulai meningkat karena sudah diolah di sumber,” imbuhnya.
Pihak DLH menekankan pentingnya optimalisasi pengelolaan sampah di sumber, dengan target ke depan hanya menerima sampah residu di TPA. “Kita inginnya nantinya hanya sampah residu yang masuk ke TPA, setelah sampah organik dan anorganik selesai diolah di sumber,” ujarnya.
Untuk mendukung hal tersebut, DLH telah membentuk tim Komunikasi, Informasi, dan Edukasi pada tahun 2026 dengan melibatkan unsur internal, tokoh masyarakat, dan pemerhati pariwisata. Tim ini akan menyasar desa, kelurahan, hingga banjar untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terkait pentingnya pengelolaan sampah.
(Jro’budi)
