BINTUNI, PAPUA BARAT, MEDIAPOLRINEWS – Organisasi Masyarakat Sadar Wisata (Masata) Teluk Bintuni siap mengubah air terjun Botai yang terletak di hutan kampong Botai, Distrik Manimer, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat menjadi destinasi wisata jempolan.
Dibawah kepemimpinan ketua Masata Teluk Bintuni, Maria Horna dari Suku Sough, pengurus dan relawan Masata meninjau langsung ke objek wisata tersebut, Air terjun korano botai terletak sekitar tiga kilometer dari jalan raya Bintuni – Manokwari.
Kampong Botai, yang merupakan pintu gerbang menuju teluk bintuni, merupakan kampong terakhir yang perbatasan langsung dengan kabupaten monokwari selatan. Jaraknya sekitar 45 kilometer dari ibu kota teluk bintuni.
Dengan senjata parang dan meteran, para pengurus Masata berjuang melalui perjalanan yang penuh liku untuk membersihkan jalan menuju kawasan air terjun yang diyakini akan menjadi daya Tarik bagi wisatawan local maupun internasional.
Pemetaan rute menuju objek wisata ini akan menjadi landasan bagi Masata untuk membangun jalan yang nyaman bagi para pengunjung.
Masata bertekad mengembangkan keindahan tersembunyi dhutan bitai ini dengan memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat setempat. Potensi wisata alam yang ada disana menjadi landasan kuat untuk melanjutkan upaya ini.
Saat ini belum ada akses yang terbuka untuk masuk ke kawasan air terjun setinggi 30 meter itu. Wisatawan yang ingin mengunjungi tempat ini harus melewati semakbelukar dan menanjak turun bukit selama sekitar dua jam perjalanan. Perjalanan ini membutuhkan usaha ekstra karena harus melintas dua sungai dan beberapa jurang yang menuntut tenaga.
“kalau kemudian hanya diberikan seperti ini, tidak kelola dengan baik maka selamanya potensi alam ini kurang memberi manfaat kepada masayarakat utamanya masyarakat adat sebagai pemilik ulayat” kata maria dari Suku Sough.
Namun jika potensi alam ini diatur dikelola dengan baik hasilnya akan memberikan manfaat ganda bagi masyarakat local dan pemerintah daerah. Masyarakat botai yang akan terlibat langsung dalam pengelolaan objek wisata ini akan menerima bagian dari pendapatan yang di peroleh dari para pengunjung.
“Kalau akses masuk sudah dibangun, saya yakin temoat ini akan ramai didatangi wisatawan pengunjung” ucapnya.
Sebelum melakukan peninjauan langsung ke lokasi objek wisata, Maria telah mempresentasikan gagasannya kepada Bupati Teluk Bintuni, Petrus Kasihiw. Inisiatif ini mendapat respon positif dan apresiasi.
“Pak bupati bilang, silahkan Masata kerjakan dulu programnya, nanti pemerintah daerah akan memberikan dukungan” ungkap maria horna.
Inisiatif Masata yang akan menjadi pelopor dalam pengembangan Obyek wisata ini juga mendapat dukungan penuh dari masayarakat Sough yang tinggal di Kampong Botai.
Seperti yang diungkap Luter Sayori, pemilik hutan Botai masyarakat sangat membutuhkan keterlibatan Masata sebagai mitra dalam mengembagkan objek wisata di Botai.
Kawasan hutan Botai tidak hanya memiliki satu Air Terjun melaikan ada tiga. Selain itu terdapat juga Goa yang belum dimanfaatkan sebagai objek wisata.
“Makanya kami sangat berterimakasih ketika Masata ambil bagian untuk bersama sama kami masyarakat pemilik ulayat dalam mengelola potensi wisata alam ini” beber Luter.
Luter menambahkan beberapa pihak telah melakukan survey dilokasi ini untuk pengembangan wisata tetapi setelah kunjungan pertama mereka tidak pernah kembali untuk melanjutkan programnya.
“Kami mencari investor yang serius untuk mengurus potensi alam ini. Masyarakat juga sudah berkomitmen untuk memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan bagi semua pengunjung jika kemudian tempat ini sudah ditata baik sebagai wisata” Ujarnya. (*)
