• Sab. Sep 19th, 2026

Media Polri News

Cepat Tepat Akurat

Catatan Putu Suasta Dari Chongqing: Tiongkok Tak Berhenti Mengejutkan Dunia

ByRedaksi MPN

Sep 19, 2026 #Tiongkok
Foto Istimewa: Pertunjukan Menggunakan Drone Tadi Malam Diatas Sungai Ya Tae di Chongqing

CHONGQING, TIONGKOK, MEDIAPOLRINEWS – Bagi seorang pengelana global seperti Putu Suasta, Tiongkok bukanlah negeri asing. Kunjungan kali ini adalah yang ketujuh kalinya. Namun, seperti kunjungan-kunjungan sebelumnya, rasa heran itu tetap muncul.

“Tiongkok terus bergerak cepat dengan pembangunan yang mencengangkan,” ujarnya per telepon dari Chongqing, kota tempat ia berada saat ini.

Menurut Putu, banyak orang masih membayangkan Tiongkok hanya sebagai museum peradaban tua. Padahal warisannya memang fenomenal dan melegenda.

Sebut saja Tembok Besar, Kota Terlarang dan Istana Musim Panas di Beijing, Pasukan Terakota di Xi’an, Kuil Langit, Leshan Giant Buddha, hingga Kota Air Suzhou. Semua peninggalan itu masih berdiri kokoh hingga kini.

“Yang luar biasa adalah cara mereka merawatnya. Peninggalan itu dijaga dengan disiplin tinggi. Masyarakatnya sangat menjaga kebersihan dan keteraturan. Hampir tidak ada coretan, tidak ada sampah. Ada kebanggaan yang luar biasa pada sejarah,” catat Putu.

Namun, lanjut Putu, dunia hari ini tidak lagi hanya disuguhkan pada romantisme masa lalu itu. Tiongkok tiada henti mengejutkan dengan karya-karya modernnya. Ia menyebut beberapa di antaranya:

Jembatan Hong Kong-Zhuhai-Macau yang membelah lautan sepanjang 55 kilometer, Terowongan Bawah Laut Jiaozhou, jaringan Kereta Cepat Fuxing yang kini menjadi yang terpanjang di dunia, hingga Bandara Internasional Daxing yang futuristik.

“Pembangunan ini seolah ingin menunjukkan, Tiongkok tidak hendak berhenti di masa lalu, tapi sedang membangun kota untuk masa depan,” katanya.

Salah satu bukti paling nyata dari lompatan itu, menurut Putu, adalah kota tempatnya berpijak saat ini: Chongqing. Kota yang pada tahun 1997 masih menjadi bagian dari Provinsi Sichuan, kini telah ditingkatkan menjadi Kotamadya raksasa yang langsung di bawah Pemerintah Pusat. Chongqing kini menjadi pusat industri dan perdagangan terbesar di Tiongkok Barat, dengan populasi lebih dari 30 juta jiwa dan laju pembangunan tercepat.

“Di sini kita bisa lihat bagaimana yang lama dan yang baru berdampingan dengan sangat harmonis. Ada Kota Tua Ciqikou yang kuno, bersebelahan dengan gedung-gedung asimetris super modern seperti Raffles City. Dan tentu saja yang paling ikonik, kereta monorel yang menembus gedung di Stasiun Liziba. Itu hanya ada di Chongqing,” ungkapnya.

Putu juga menceritakan pengalaman uniknya menikmati pertemuan dua sungai raksasa di pusat kota, Sungai Yangtze dan Sungai Jialing di kawasan Chaotianmen. Di siang hari ia melihat pertemuan dua warna air yang berbeda, di sore hari ia naik Kereta Gantung Sungai Yangtze, dan di malam hari ia larut dalam Pelayaran Dua Sungai.

“Malam hari di sini seperti di film fiksi ilmiah. Gua Hongya menyala, jembatan-jembatan diterangi, gedung pencakar langit menjulang dari lereng. Bahkan sungai pun tak bisa bertemu tanpa efek khusus,” ujarnya sambil tertawa.

“Pembangunan di Tiongkok memang terus berlangsung cepat dan mencengangkan. Saya sudah tujuh kali ke sini, tapi tetap kagok dan terheran-heran melihat perubahannya. Selalu ada yang baru,” tutup Putu.

Di akhir catatannya, pengelana asal Bali itu berpesan, pepatah lama “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Tiongkok” masih sangat berlaku. “Pepatah itu klasik, tapi semakin lama semakin benar. Tiongkok mengajarkan kita bagaimana merawat masa lalu sambil berlari kencang ke masa depan. Dan itu perlu terus kita sadari,” pungkasnya.

Pesan Putu itu terasa semakin relevan jika membaca pernyataan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Panjaitan usai bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi pada Kamis (17/9/26) di Beijing.

Dalam pertemuan itu, Luhut menegaskan Indonesia ingin belajar dari model pembangunan Tiongkok, khususnya dari pengalaman keberhasilan pelaksanaan Rencana Lima Tahun ke-15. Indonesia membidik perluasan kerja sama di industri strategis baru seperti kecerdasan buatan (AI), bioteknologi, layanan kesehatan, manufaktur maju, dan keuangan digital.

Luhut juga menekankan bahwa kerja sama Indonesia-Tiongkok tidak boleh berhenti sebagai proyek megah di atas kertas, tapi hasilnya harus konkret: membuka lapangan kerja, mentransfer teknologi, dan menaikkan taraf hidup masyarakat. Apa yang dibahas di meja diplomasi Beijing, itulah yang disaksikan langsung oleh Putu Suasta denyutnya di Chongqing. (**)

Liputan Valen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *