JAKARTA, MEDIAPOLRINEWS – Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan sejumlah tokoh yang dikenal kritis terhadap pemerintahan memicu spekulasi di kalangan pengamat politik. Pertemuan tertutup yang berlangsung di kediaman Prabowo pada 30 Januari 2026, dihadiri oleh antara lain Abraham Samad, Said Didu, Susno Duadji, dan Siti Zuhro.
Menurut para peserta, Prabowo mempresentasikan berbagai kebijakan strategis pemerintahannya dan membuka diskusi yang dinamis mengenai isu-isu sensitif seperti reformasi Polri dan pemberantasan korupsi. Pemerintah melalui Mensesneg Prasetyo Hadi menekankan bahwa para tokoh ini bukan “oposisi” sejati, melainkan “tokoh nasional” dengan kepedulian tinggi di bidangnya masing-masing.
Pengamat Sosial Politik Independen, Malika Dwi Ana, menilai pertemuan ini dapat dilihat sebagai upaya Prabowo untuk meredam potensi konflik dan membangun narasi pemerintahan yang terbuka terhadap kritik. Namun, Malika juga menyoroti potensi risiko erosi demokrasi jika pertemuan ini hanya menjadi pengganti palsu untuk checks and balances yang seharusnya dijalankan oleh oposisi yang kuat di parlemen.
“Jika Prabowo benar-benar ingin perubahan, mengapa tidak mengundang lebih banyak kelompok masyarakat sipil atau oposisi parlementer?” tanya Malika.
Malika juga mempertanyakan komposisi peserta pertemuan yang didominasi oleh tokoh kritis namun juga dihadiri oleh menteri-menteri inti Prabowo. Menurutnya, hal ini menunjukkan potensi co-optation, yaitu menarik suara kritis ke dalam lingkaran pengaruh.
Malika menekankan bahwa waktu akan membuktikan apakah pertemuan ini merupakan harapan sejati atau hanya sekadar alat untuk memperkuat kekuasaan. Ia juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan agar harapan tidak berubah menjadi ilusi.
Laporan Jro’budi
