BANGLI, KINTAMANI, MEDIAPOLRINEWS – Aktivitas truk pengangkut pasir yang masif dan tidak terkendali di kawasan wisata Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, dikeluhkan telah menjadi ancaman serius bagi keselamatan, kenyamanan wisatawan, dan kelestarian lingkungan.
Pantauan di lapangan menunjukkan truk-truk tersebut sering beroperasi pada jam sibuk kunjungan wisatawan. Banyak di antaranya melaju dengan muatan berlebihan (overloading), tidak menggunakan terpal penutup, dan parkir dibahu jalan sehingga membuat macet pengendara lainnya. Praktik ini menyebabkan polusi debu parah yang mengganggu pernapasan serta meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas.
“Kami sangat terganggu dengan lalu lalang truk-truk ini. Selain membahayakan, debu yang ditimbulkan juga membuat kami tidak nyaman,” ujar Andika, salah seorang wisatawan, mengkonfirmasi dampak langsung yang dirasakan pengunjung.
Dampak sistemiknya semakin nyata pada infrastruktur. Jalan utama menuju objek wisata dilaporkan mengalami kerusakan parah berupa lubang dan retakan, diduga kuat akibat tonase berlebihan dari kendaraan angkutan berat tersebut.
Tokoh masyarakat dari Desa Songan yang minta identitasnya dirahasiakan menegaskan perlunya tindakan segera. “Kami berharap aparat terkait segera turun tangan menertibkan truk-truk ini. Jangan sampai Kintamani yang seharusnya menjadi tempat yang nyaman dan aman justru menjadi ‘neraka’ akibat aktivitas yang tidak terkendali,” tegasnya.
Kondisi ini dinilai ironis mengingat Kintamani merupakan destinasi wisata unggulan Bali. Situasi ini memunculkan pertanyaan publik mengenai pengawasan dan penegakan hukum oleh Pemerintah Kabupaten Bangli.
Masyarakat dan pelaku pariwisata mendesak Pemkab Bangli untuk segera mengambil langkah konkret guna:
1. Menertibkan operasional truk pengangkut pasir yang melanggar aturan.
2. Menjamin keselamatan dan kenyamanan wisatawan.
3. Memulihkan kerusakan jalan dan mencegah pencemaran lingkungan.
Tanpa intervensi dan penegakan hukum yang tegas, dikhawatirkan daya tarik dan citra Kintamani sebagai destinasi wisata utama Bali akan terus tergerus, berpotensi berdampak pada kunjungan wisatawan.
(Kaperwil Bali : Jro’budi)
